INGATLAH HARI INI

Jingga sedang sibuk melahap mie ayam dengan kuah berwarna orange di kantin yang sudah lengang. Sesekali ia mengusap keningnya yang dibanjiri keringat. Wajahnya merah ala kepiting rebus.
“Hey! Aku cari kamu ke mana-mana loh. Gak taunya malah asyik di sini,” sapa seorang cowok dengan mata hazzel dan berambut coklat yang tiba-tiba duduk di depan Jingga.
“Eh, ada apa, Rezs? Lo udah makan? Mau cobain ini gak?” Jingga menawarkan mie ayam kuah orangenya pada cowok bermata hazzel itu, Arez.
Arez geleng-geleng kepala sambil bergidik ngeri, “No, thanks. Jangan dibiasain makan pedes-pedes gitu dong, Beib. Udah tau punya maag, masih aja bandel,”
Jingga nyengir. Jingga dan Arez memang sepasang kekasih. Ralat, mereka adalah dua orang yang selama hampir setahun menghabiskan waktu bersama. Jingga memang menyayangi Arez. Tapi hanya sebagai sahabat. Berbeda dengan Arez yang menyayangi Jingga lebih dari sahabat.
“Eh, lo tadi ada apa kok nyari gue?” tanya Jingga setelah menyeka keningnya.
“Oh iya, panitia perpisahan ada rapat di aula, sekarang,” jawab Arez dengan senyum manisnya.
“Eh? Ya udah, yuk jalan,” Jingga menarik tangan Arez. Arez bengong.
***
Seluruh panitia sudah berkumpul di aula saat Arez dan Jingga tiba. Panitia perpisahan seluruhnya adalah siswa-siswi kelas XII, gabungan antara jurusan IPA, IPS dan Bahasa. Wajah-wajah lemas, letih, lesu dan lunglai yang ada di aula seketika menoleh ke arah Arez dan Jingga.
“Oke, karena yang ditunggu udah dateng, kita mulai aja deh rapat kita,” ujar Rene, gadis gendut, ketua pelaksana acara perpisahan tahun ini. “Di acara perpisahan nanti kita mau ngadain acara apa sih?”
“Anak-anak Bahasa gabungan mau ngadain drama musikal, menurut lo gimana?” usul cowok yang akrab disapa Ivan.
“Not bad,”
“Dari XII IPS 3 mau ada yang bacain puisi,” kata cowok berambut cepak, Kutil, ehm maksudnya Harold.
“Oke boleh juga. Eh, Ga, diem aja lo dari tadi. Gak biasanya,” Rene melihat ke arah Jingga yang sedang duduk di sudut ruangan sambil menutup mata dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Jingga membuka sebelah matanya, “Diem deh lo, gue lagi semedi nih,”
“Whatever! Eh, lo kebagian sie apa sih, Ga?” tanya Rene .
“Gue kebagian sie obrak-abrik nih. Hehehehe. Becanda ding, gue anggota sie acara,”
Rene ber-oh sambil manggut-manggut, “Eh ya, dari panitia mau ngisi acara apa? Nyanyi?”
“Boleh juga tuh, ntar latihannya kita sisip-sisipin di antara kesibukkan kita ngurus acara deh,” jawab Arez diikuti dengan umpatan panitia lain.
Jingga mengangkat tangannya, “Ntar gue boleh dong, nyanyi solo? Gue mau nyanyi Suwe Ora Jamu nih, kan gue mau nyapa fans-fans gue,”
Usulan Jingga langsung disambut dengan “Huuuuuuu!!!” dan “Hahahahhaha,” dari seluruh panitia, kecuali Arez dan Jingga sendiri tentunya.
Rapat hari itu ditutup dengan pembagian lidi pedas yang tadi dibeli Jingga di kantin.
***
Hari itu Jingga bangun kesiangan dan masih menyempatkan untuk nonton Spongebob Squarepants. Sehingga, Jingga harus mengemis-ngemis pada Pak Beni, satpam sekolah, agar diperbolehkan masuk karena ia terlambat 15 menit dari bel masuk.
Jingga agak heran saat melihat siswa-siswi SMA Pelita Bangsa bersenda gurau di koridor kelas. Ah, iya, hari ini kan ada kerja bakti. Makanya, warga SMA Pelita Bangsa terlihat sibuk sekali. Ada yang sibuk mengangkat pot-pot besar, mengepel lantai, membersihkan kaca, ada juga yang bertingkah konyol untuk menarik perhatian si do’i. Kelakuan.
Pandangan Jingga menangkap sosok Arez di bawah pohon cherry. Ia sedang sibuk dengan laptop di pangkuannya. Jingga memutuskan untuk menghampiri Arez.
“Nggg, hai, Rez. Lagi sibuk ya?” tanya Jingga basa-basi.
Arez menoleh, tersenyum, senyum khas Arez yang selalu menenangkan, “Iya nih, aku lagi buat undangan buat pembina ekskul,”
“Aku mau ngomong sesuatu nih, boleh?”
“Boleh dong, Beib, mau ngomong apa?” Pandangan Arez masih fokus pada layar laptopnya.
“Rez, kayaknya kita putus aja deh,” Jingga mengucapkan kalimat itu dengan satu tarikan nafas.
“Hah? Putus? Aku salah apa sama kamu?” Arez memandang Jingga setelah sebelumnya meletakkan laptopnya.
“Lo gak salah apa-apa kok, Rez. Gue gak mau terus-terusan bohong sama diri gue sendiri, gue udah berusaha buat sayang ke lo, tapi tetep aja sayang gue ke lo cuma stuck di sayang ke sahabat aja. Gak lebih. Maafin gue, Rez,”
Arez memalingkan wajahnya dari Jingga,menghela nafas, lalu beranjak pergi meninggalkan Jingga.
“Rez, maafin gue,” teriak Jingga.
Arez berhenti tapi tidak menoleh. Ia kembali berjalan meninggalkan Jingga. Jingga menatap punggung Arez yang akhirnya hilang di balik belokkan.
***
Malam perpisahan digelar dua minggu setelah Ujian Nasional diadakan. Hal ini bertujuan agar semua siswa bisa menikmati malam ini tanpa beban. Kalau perpisahan ini diadakan setelah pengumuman kelulusan, takut-takut ada siswa yang tidak lulus dan akhirnya tidak datang ke acara ini. Kita harus mempersiapkan kemungkinan terburuk, kan?
Malam ini seluruh panitia tampil elegan dengan dress code warna putih. Begitupun dengan Jingga, ia tampil cantik dengan dress putih selutut. Rambut panjangnya dibiarkan terurai. High heels setinggi sembilan senti menuntun langkahnya.
Jingga melihat Arez mengenakan jas putih dengan celana senada. Ia sedang sibuk mengkoordinir anggotanya untuk bersiaga di area sekolah. Pandangan Jingga dan Arez bertemu. Jingga melambaikan tangannya dengan semangat ke arah Arez. Tapi, Arez malah membuang muka dan kembali berembuk dengan anggota sie keamanan.
Lagu Semua Tentang Kita-nya Peterpan mengalun, disusul dengan video dan foto-foto perjalanan siswa-siswi kelas XII selama tiga tahun. Mulai dari masa orientasi, sampai saat Ujian Nasional berlangsung. Air mata mulai bercucuran. Video itu ditutup dengan kalimat, “Aku selalu menghargai masa lalu, karena di sanalah kita berada. Semua tentang kita akan tersimpan rapi dalam kotak bernama, KENANGAN.”
“Oke, udah dong mewek-meweknya. Eh, ngomong-ngomong gue keliatan lumayan ganteng ya di video tadi? Hahahaha,” kata Harold selaku MC. “Tapi sayang banget, lo nolak gue setaun yang lalu,” kalimat terakhir Harold ditujukan pada Jingga yang malam ini mendampinginya sebagai MC juga.
“Ciiiiieeeeeeee” langsung bersahutan di antara tawa penonton.
“Ah, bisa aja lo,” jawab Jingga tertawa sambil memukul bahu Harold ringan. “Nah,sebagai penutup rangkaian acara malam ini, kami dari panitia mau nyumbangin suara sumbang kami nih,”
“Enak aja lo bilang suara sumbang kami, suara sumbang elo keleus, Ga! Seluruh panitia diharap naik ke panggung ya, kan tadi udah dikasih jamu beras kencur tuh sama ketupelnya. It’s show time guys,” Harold mengomando panitia naik ke atas panggung.
Intro lagu Project Pop perlahan mulai terdengar.
“Kawan dengarlah yang akan aku katakan. Tentang dirimu s’tlah selama ini,” Rene mengawali,
“Ternyata kepalamu akan slalu botak, kamu kayak gorilla,” Kali ini giliran Harold. Ia bernyanyi sambil menunjuk ke arah Ivan.
“Cobalah kamu ngaca tuh bibir balapan,” Ivan melirik Harold.
“Daripada gigi lo kayak kelinci,” Harold merangkul Ivan.
“Yang ini udah gendut suka marah-marah. Kau cacing kepanasan,” Harold dan Ivan kompak menunjuk Rene. Rene langsung mengacungkan kepalan tangannya.
“Tapi kutak peduli, kau slalu di hati,” sambung Jingga menggandeng tangan Harold dan Rene.
Seluruh panitia langsung menyahut, “Kamu sangat berarti, istimewa di hati, slamanya rasa ini. Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini.”
Panitia mulai berjoged tak karuan. Hal ini dimanfaatkan Arez untuk menghampiri Jingga.
“Ga, gue minta maaf ya?” kata Arez di tengah kebisingan itu.
“Maaf buat apa, Rez? Lo gak ada salah kok sama gue. Gue yang harusnya minta maaf. Gue kan udah nyakitin elo,” jawab Jingga setengah berteriak.
“Engga, Ga, harusnya gue ngerti kalo lo gak pengin ngerusak persahabatan kita sama cinta. Right?” Arez tersenyum. “So, best friend forever?”
Jingga mengangguk semangat lalu memeluk Arez.
“Don’t you worry just be happy, temanmu di sini. Kamu sangat berarti, istimewa di hati, slamanya rasa ini. Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini,” Panitia saling bersalaman, berpelukan, bahkan ada juga yang terharu sanpai meneteskan air mata.
“Dengan berakhirnya lagu persembahan dari panitia tadi, berakhir juga rangkaian acara malam ini. Saya Harold van kutil,”
“Dan saya Jingga Quiterie,”
“Pamit undur diri. See you next time guys!!!”
***

Karya M.F

PGSD

satu hati untuk bangsa

CERPEN KARYA ANAK BANGSA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *