Anggota Ormawa, Pimpinan DKA dan Pemateri Foto bersama

UNIKAMA – Menjadi panitia PKKMB bukan sekadar soal membagi tugas, mengatur acara, atau memastikan kegiatan berjalan sesuai jadwal. Lebih dari itu, seorang panitia juga dituntut mampu berkomunikasi, mengendalikan emosi, bekerja dalam tim, dan menjadi contoh bagi mahasiswa baru.

Berangkat dari hal tersebut, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) membekali calon panitia Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) melalui kegiatan Pelatihan Soft Skill bagi Organisasi Mahasiswa (Ormawa), Jumat (4/9/2026).

Bertempat di Ruang Abdoel Rajab, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan yang akan mereka butuhkan selama menjalankan peran sebagai panitia maupun dalam kehidupan berorganisasi.

Tidak hanya membahas kesiapan teknis, peserta mendapatkan pembekalan tentang komunikasi, negosiasi, growth mindset, literasi digital, self-leadership, emotional intelligence, hingga motivasi kepemimpinan.

Siap Jadi Panitia, Siap Jadi Contoh

Kepala Pusat Pengembangan Potensi Mahasiswa Unikama, Romadhon, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa peserta pelatihan merupakan calon panitia yang nantinya akan berhadapan langsung dengan mahasiswa baru.

Karena itu, kesiapan mereka tidak cukup hanya sebatas mengetahui tugas masing-masing.

“Jadi ini adalah calon, sekali lagi, calon panitia PKKMB. Sehingga dibekali bagaimana caranya mengelola emosi, mengatur anak buahnya besok di PKKMB, menghargai waktu, dan tidak sembarangan di depan anak buahnya,” tegasnya.

Menurut Romadhon, panitia PKKMB akan menjadi salah satu wajah pertama yang dilihat mahasiswa baru saat memasuki lingkungan kampus. Sikap dan perilaku panitia, secara tidak langsung, akan ikut memberikan kesan awal tentang kehidupan kampus dan organisasi mahasiswa.

Karena itu, panitia harus siap bekerja sekaligus siap menjadi teladan.

Bukan Sekadar Jago Ngomong, Tapi Juga Harus Bisa Mendengar

Salah satu kemampuan yang menjadi perhatian dalam pelatihan ini adalah komunikasi dan negosiasi.

Materi tersebut disampaikan oleh Alim Mustofa, S.Sos., SH., M.AP. Peserta diajak memahami bagaimana menyampaikan gagasan dengan baik, membangun komunikasi yang efektif, hingga menghadapi perbedaan pendapat dalam organisasi.

Hal ini penting karena dunia organisasi tidak pernah lepas dari perbedaan pandangan. Setiap orang bisa memiliki ide, kepentingan, dan cara berpikir yang berbeda.

Di sinilah kemampuan komunikasi dan negosiasi dibutuhkan.

Mahasiswa tidak hanya harus mampu menyampaikan apa yang mereka pikirkan, tetapi juga belajar mendengarkan, memahami, dan menghargai pendapat orang lain.

Romadhon juga menyoroti pentingnya memberikan respons dalam sebuah komunikasi. Menurutnya, menghargai orang lain bisa dimulai dari hal sederhana, termasuk memberikan tanggapan atas pesan yang diterima.

“Kalau kamu ingin dihargai orang, minimal kamu apresiasi sedikit, sekalipun itu hanya sehelai rambut atau setipis tisu responsmu,” ujarnya.

Pesan sederhananya: jangan cuma ingin didengar, tapi belajarlah juga untuk mendengarkan dan menghargai orang lain.

Mahasiswa Harus Adaptif dan Melek Digital

Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan materi Growth Mindset dan Literasi Digital oleh Dr. Teguh Sulistyo, M.Pd.

Peserta didorong untuk memiliki pola pikir yang terbuka terhadap perubahan dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

Dalam dunia organisasi, situasi tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada masalah koordinasi, perubahan mendadak, hingga perbedaan pendapat yang harus diselesaikan bersama.

Karena itu, mahasiswa perlu memiliki growth mindset atau pola pikir untuk terus belajar dan berkembang.

Di era digital yang bergerak cepat, kemampuan literasi digital juga menjadi bekal penting. Mahasiswa dituntut mampu memahami informasi, menggunakan teknologi secara bijak, dan bertanggung jawab dalam aktivitas digital.

Intinya, mahasiswa harus siap belajar, cepat beradaptasi, dan tidak gampang panik saat menghadapi perubahan.

Bisa Mengatur Orang Lain Dimulai dari Bisa Mengatur Diri Sendiri

Materi berikutnya, Self-Leadership & Emotional Intelligence, disampaikan oleh Dr. Choirul Huda, M.Si.

Sesi ini mengajak peserta memahami pentingnya memimpin diri sendiri dan mengelola emosi.

Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan dalam kepanitiaan. Saat kegiatan berlangsung, panitia bisa saja menghadapi tekanan, kelelahan, kesalahpahaman, hingga persoalan yang muncul secara tiba-tiba.

Dalam situasi seperti itu, panitia harus mampu tetap tenang dan berpikir jernih.

Sebab, kepemimpinan bukan hanya tentang memberikan perintah kepada orang lain.

Kepemimpinan juga tentang bagaimana seseorang mampu mengatur dirinya sendiri, mengendalikan emosinya, dan tetap bertanggung jawab dalam kondisi apa pun.

Disiplin Waktu, Jangan Cuma Jadi Slogan

Salah satu pesan yang paling ditekankan dalam kegiatan ini adalah soal disiplin waktu.

Romadhon menegaskan bahwa mahasiswa yang ingin menjadi calon pemimpin harus mampu menghargai waktu. Kedisiplinan bukan sekadar soal datang tepat waktu, tetapi juga bentuk tanggung jawab terhadap komitmen bersama.

Ia bahkan memberikan penegasan kepada peserta yang datang terlambat setelah materi pertama selesai.

“Saya enggak mau main-main dengan Ormawa yang serta-merta sebagai calon pemimpin sementara tidak bisa menghargai waktu,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa calon panitia PKKMB tidak bisa hanya menuntut mahasiswa baru untuk disiplin.

Panitia harus lebih dulu memberikan contoh.

Karena bagaimana mungkin seseorang mengajak orang lain untuk tertib jika dirinya sendiri belum mampu menghargai aturan dan waktu?

Dari Organisasi Kampus untuk Calon Pemimpin Masa Depan

Rangkaian pelatihan juga menghadirkan materi Training Motivation: Pemimpin Masa Depan Menjunjung Tinggi Kearifan Lokal oleh Dr. Akhmad Jufriadi, M.Si.

Melalui sesi ini, mahasiswa diajak melihat organisasi sebagai tempat untuk belajar dan bertumbuh menjadi pemimpin.

Aktif di Ormawa bukan hanya tentang rapat, menjalankan program kerja, atau menjadi panitia sebuah kegiatan.

Lebih dari itu, organisasi adalah tempat untuk belajar mengambil keputusan, bekerja sama, menyelesaikan masalah, bertanggung jawab, dan memimpin.

Kegiatan ditutup dengan refleksi dan evaluasi diri. Peserta diajak melihat kembali kesiapan mereka sebagai calon panitia PKKMB serta mengenali kemampuan yang perlu terus dikembangkan.

PKKMB Bukan Sekadar Acara, Panitianya Juga Harus Punya Karakter

Pada akhirnya, pelatihan ini membawa pesan yang lebih besar: PKKMB tidak hanya membutuhkan panitia yang bisa bekerja, tetapi juga mahasiswa yang memiliki karakter.

Mahasiswa baru nantinya akan memasuki lingkungan yang benar-benar baru. Mereka membutuhkan proses adaptasi dan panitia menjadi salah satu pihak yang akan mendampingi proses tersebut.

Karena itu, calon panitia PKKMB harus mampu menciptakan suasana yang tertib, komunikatif, suportif, dan positif.

Bekal seperti kemampuan berkomunikasi, mengelola emosi, bekerja sama, menghargai waktu, beradaptasi, hingga memimpin diri sendiri menjadi modal penting yang dibawa peserta dari pelatihan ini.

Melalui pembekalan tersebut, Unikama berupaya menyiapkan calon panitia PKKMB yang bukan hanya siap bertugas, tetapi juga siap memimpin, siap melayani, dan siap menjadi contoh.

Sebab, menjadi panitia bukan sekadar memakai atribut dan menjalankan tugas. Lebih dari itu, ini adalah tentang belajar bertanggung jawab dan menunjukkan bahwa mahasiswa juga mampu menjadi bagian dari generasi pemimpin masa depan.

Bukan Cuma Siap Bertugas, Calon Panitia PKKMB Unikama Digembleng Jadi Pemimpin
Ditag pada: